Saturday, March 12, 2016

Pneumotoraks


KONSEP DASAR PNEUMOTORAKS

    A.    Anatomi Rongga Pleura
 Image result for pneumothorax
  1. Terletak diantara paru dan dinding thoraks
  2. Lapisan yang menyelimuti paru, terdiri atas 2 lapisan :
a.   Lapisan Parietalis :
    • Menempel kuat pada dinding dada
    • Fungsi : memproduksi cairan pleura
b. Lapisan Viseralis :
·         Menempel kuat pada jaringan paru
·         Fungsi : mengabsorbsi cairan pleura

    B.     Pengertian

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan terdapatnya udara didalam rongga pleura. Pneumotoraks terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu pneumotoraks terbuka, pneumotoraks tertutup dan pneumotoraks ventil.
    1.       Pneumotoraks terbuka
Pneumotoraks yang terjadi akibat adanya hubungan terbuka antara rongga pleura dan bronchus dengan lingkungan luar. Dalam keadaan ini, tekanan intra pleura sana dengan tekanan barometer (luar). Tekanan intrapleura disekitar nao (0) sesuai dengan gerakan pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi tekanannya positif.
2.            Pneumotoraks tertutup
Rongga pleura tertutup dan tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Udara yg dulunya ada di rongga pleura (tekanan positif) karena direasorpsi dan tidak ada hubungannya lagi dengan dunia luar maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negative. Tetapi paru belum bias berkembang penuh, sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya sudah normal.
3.            Pneumotoraks ventil
Ini merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus kepercabangannya dan menuju kea rah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi, udara masuk ke rongga pleura yang pada permulaannya masih negatif.

   C.    Penyebab

Pneumotorak terjadi karena adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini berhubungan dengan bronchus. Pelebaran alveoli dan pecahnya septa-septa alveoli kemudian membentuk suatu bula yang disebut granulomatous fibrosisi. Granulomatous fibrosisi adalah salah satu penyebab tersering terjadinya pneumotoraks., karena bula tersebut berhubungan dengan adanya obstruksi empiema.




D.    Patofisiologis

Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negatif daripada tekanan intrabronkhial, sehingga paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara dari luar yang tekanannya nol (0) akan masuk ke bronchus hingga sampai ke alveoli. Saat ekspirasi, dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi dari tekanan di alveolus maupun di bronchus, sehingga udara ditekan keluar malalui bronchus. Tekanan intrabronkhial meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intrabronkhial akan lebih meningkat lagi pada waktu batuk, bersin dan mengejan, karena pada keadaan ini epiglitis tertutup. Apabila di bagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah, bronchus atau alveolus itu akan pecah dan robek.
Pada waktu ekspirasi, udara yang masuk ke dalam rongga pleura tidak mau keluar melalui lubang yang terbuka sebelumnya, bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar dapat masuk ke dalam rongga pleura. Apabila ada obstruksi di bronchus bagian proximal dari fistel tersebut akan membuat tekanan pleura semakin lama semakin meningkat sehubungan dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk ke rongga pleura saat ekspirasi terjadi karena udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, terlebih jika klien batuk, tekanan udara di bronchus akan lebih kuat dari ekspirasi biasa.
Secara singkat proses terjadinya pneumotoraks adalah sebagai berikut:
1.      Alveoli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara masuk kearah jaringan peribronkhovaskular. Apabila alveoli itu melebar, tekanan dalam alveoli akan meningkat.
2.      Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan obstruksi endobronkhial adalah faktor presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan
3.      Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan jaringan fibrosis di peribronkhovaskular ke arah hilus, masuk mediastinum, dan menyebabkan pneumotoraks.

   E.     Tanda dan gejala

Pneumo
toraks
Tanda dan gejala
Intervensi
Tertutup
Pneumotoraks yang kecil atau terjadi lambat, tidak menimbulkan gejala
Observasi, rawat jalan
Pneumotoraks yang luas dan cepat menimbulkan:
Nyeri tajam saat ekspirasi
Peningkatan frekuensi napas
Produksi keringat berlebihan
Penurunan tekanan darah
Takikardi
Inspeksi dan palpasi: penurunan sampai hilangnya pergerakan dada pada sisi yang sakit
Perkusi: hiperresonan pada sisi yang sakit
Auskultasi: penurunan sampai hilangnya suara napas pada sisi yang sakit
Kolaborasi dengan tim medis:
Pemberian oksigen
Tindakan kontraventil dengan aspirasi udara dari rongga pleura
Pemasangan WSD
Spontan
Napas pendek dan timbul secara tiba-tiba tanpa ada trauma dari luar paru
Apabila penatalaksanaan dengan WSD gagal, dipertimbangkan untuk dilakukan reseksi paru
Tension
Inspeksi: sesak napas berat, penurunan sampai hilangnya pergerakan dada pada sisi yang sakit
Palpasi: pendorongan trakea dari garis tengah menjauhi sisi yang sakit dan distensi vena jugularis
Auskultasi: penurunan sampai hilangnya suara napas pada sisi yang sakit
Tindakan kontraventil
Penutupan luka yang terbuka
Pemasangan WSD
Terbuka
Inspeksi: sesak napas berat, terlihat adanya luka terbuka dan suara mengisap ditempat luka saat ekspirasi
Palpasi: pendorongan trakea dari garis tengah menjauhi sisi yang sakit
Perkusi: hiperresonan pada sisi yang sakit
Auskultasi: penurunan sampai hilangnya suara napas pada sisi yang sakit
Tindakan kontraventil
Penutupan luka yang terbuka
Pemasangan WSD

    F.     Pemerikasaan Diagnostik

Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologis pneumotoraks akan tampak hitam, rata, dan paru yang kolaps akan tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis, tetapi berbentuk lobuler yang sesuai dengan lobus paru. Adakalanya paru yang mengalami kolaps tersebut hanya tampak seperti massa yang berada di daerah hilus. Keadaan ini menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besarnya kolaps paru tidak selalu berkaitan dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
Perlu diamati ada tidaknya pendorongan. Apabila ada pendorongan jantung atau trakhea ke arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan intrapleura yang tinggi.
  
    G.    Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan pneumotoraks tergantung pada jenis pneumotoraks yang dialami, derajat kolaps, berat ringannya gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi saat pelaksanaan pengobatan yang meliputi :

     1.      Tindakan dekompresi
Membuat hubungan antara rongga pleura dengan lingkungan luar dengan cara:
   a   .       Menusukkan jarum melalui dinding dada hingga masuk ke rongga pleura, dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif. Hal ini disebabkan karena udara keluar melalui jarum tersebut. Cara lainnya adalah melakukan penusukkan jarum ke rongga pleura melalui tranfusion set.

    b  .      Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontraventil :
·         Menggunakan pipa Water Sealed Drainage (WSD).
Pipa khusus (kateter thoraks) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantara trokar atau dengan bantuan klem penjepit (pen) pemasukan pipa plastic (kateter thoraks) dapat juga dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke-4 pada garis axial tengah atau garis axial belakang. Selain itu, dapat pula melalui sela iga ke-2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya, ujung selang plastik di dada dan pipa kaca WSD dihubungkan melelui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.
·         Pengisapan kontinu (continous suction).
Pengisapan dilakukan secara kontinu apabila tekanan intrapleura tetap positif. Pengisapan ini dilakukan dengan cara memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O. Tujuannya adalah agar paru cepat mengembang dan segera terjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura parietalis.       
        ·    Pencabutan drain
Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekana intrapleura sudah negatif kembali, drain dapat dicabut. Sebelum dicabut, drain ditutup dengan cara dijepit atau ditekuk selama 24 jam. Apabila paru tetap mengembang penuh, drain dapat dicabut.
     c   .     Tindakan bedah
Pembukaan dinding thoraks dengan cara operasi, maka dapat dicari lubang yang menyebabkan terjadinya pneumothoraks, lalu lubang tersebut dijahit,
   d.      Pada pembedahan, jika dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak dapat mengembang, maka dapat dilakukan pengelupasan atau dekortikasi.
Pembedahan paru kembali bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel dari paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.

    2.      Penatalaksanaan Tambahan
      a.       Apabila terdapat proses lain di paru, pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya, yaitu:
·         Terhadap proses TB paru, diberi OAT
·         Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar dekekasi, penderita dibei obat laksatif ringan, dengan tujuan agar saat defekasi, penderita tidak perlu mengejan terlalu keras.
     b.      Istirahat total
·         Klien dilarang melakukan kerja keras (mengangkat barang), batuk, bersin terlalu keras dan mengejan.

Thursday, March 10, 2016

Penting Bahaya Virus Zika

 Image result for bahaya virus zika
Bagi sebagian orang, virus Zika masih terdengar asing. Guna menambah pengetahuan Anda mengenai apa dan bagaimana virus Zika menginfeksi, berikut lima fakta virus Zika.


1. Apa itu Zika dan mengapa begitu serius?

Virus Zika merupakan flavivirus, bagian dari keluarga yang sama seperti sakit kuning, virus West Nile, chikungunya, dan demam berdarah. Bedanya, hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah dan obat untuk mengobati penderita yang terkena virus baru ini.

Virus Zika menyita perhatian dunia karena dapat menyebabkan  microcephaly, yaitu gangguan neurologis yang mengakibatkan bayi terlahir dengan kepala abnormal berukuran lebih kecil. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kematian, meski jarang terjadi.

Di Brasil, tercatat 4 ribu kasus bayi terlahir dalam keadaan microcephaly karena sang ibu terjangkit virus Zika. Bahkan pada 2014, terdapat 46 dari 146 kasus ibu hamil yang terjangkit virus Zika berujung pada kematian.

Sementara, bayi yang lahir dengan kondisi microcephaly sudah ditemukan di Amerika Serikat dan Hawaii. Hal itu disebabkan saat hamil, si ibu pernah berpergian ke Brasil.

Selain itu, di Illinois, dua wanita hamil yang bepergian ke Amerika Latin telah dinyatakan positif terjangkit Zika. Saat ini, petugas kesehatan sedang memantau kondisi dua wanita hamil tersebut.

CDC juga meminta dokter kandungan memantau perkembangan janin melalui ultrasonografi dan melakukan pengujian terhadap wanita hamil setelah bepergian ke salah satu dari 23 negara yang terjangkit virus Zika.

Tidak hanya menyebabkan microcephaly, virus Zika di beberapa negara juga dikatikan dengan sebuah wabah yang lebih kecil dari Sindroma Guillain-Barre, yakni gangguan autoimun yang dapat menyebabkan kelumpuhan.


2. Bagaimana Zika menyebar?

Virus ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Gigitan nyamuk tersebut  menginfeksi dan menyebar kepada orang lain jika nyamuk menggigit orang berebda.

Pada kebanyakan orang, ada beberapa gejala yang pada umumnya dirasakan saat mulai terjangkit virus Zika, yaitu demam, sakit kepala, ruam, dan mata menjadi merah.

Pada kenyataannya, 80 persen dari orang yang terinfeksi tidak menyadari bahwa mereka terjangkit virus tersebut, terutama ketika menyerang wanita hamil. Bahkan, sekarang virus tersebut mampu melewati ketuban bayi.

"Sekarang kita tahu, janin dapat terinfeksi virus. Ini bukan hal baru untuk penyakit menular, tapi tergolong baru untuk virus ini," jelas direktur Direktur CDC's Division of Vector-Borne Diseases Dr Lyle Petersen.

"Ini adalah situasi yang sangat luar biasa. Sebab, flavivirus lain tidak melakukannya. Tidak juga pada demam berdarah, West Nile, atau chikungunya," ucap Dr Anthony Fauci, menimpali.

Gawatnya, virus Zika tidak hanya ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. CDC mengatakan, ada beberapa kasus penularan virus terjadi saat transfusi darah, proses laboratorium, dan hubungan seksual.
Tidak hanya itu, Zika juga telah ditemukan dalam ASI. Tapi, belum ada bukti bahwa bayi dapat tertular melalui ASI yang diberikan ibunya saat menyusui.

Untuk kasus penyebaran lewat hubungan seks, hal itu terjadi di Polinesia, Prancis, pada 2013. Sampel sperma seorang pria Tahiti berusia 44 tahun terbukti positif terjangkit Zika, meski tidak ditemukan pada pengujian darah.

Lima tahun sebelumnya, pada 2008, ahli mikrobiologi Colorado bernama Brian Foy juga terjangkit Zika setelah melakukan perjalanan ke Senegal. Beberapa hari kemudian, istrinya ikut terjangkit penyakit, meski sang istri tidak pernah bepergian ke wilayah yang terkena wabah Zika.


3. Peta penyebaran virus Zika saat ini

CDC mengatakan, virus Zika saat ini beredar di negara Barbados, Bolivia, Brasil, Tanjung Verde, Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Guyana Perancis, Guadeloupe, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Riko, Saint Martin, Suriname, Samoa, Kepulauan Virgin, Amerika Serikat, dan Venezuela.

Zika mulai memasuki wilayah Amerika Serikat karena dibawa oleh wisatawan yang kembali dari daerah yang terinfeksi.

Namun, apakah penyakit yang dibawa oleh manusia bisa menyebabkan masyarakat lokal terinfeksi virus tersebut? Jika nyamuk Aedes Albopictus atau nyamuk Macan Asia dan Aedes Aegypti dapat mentransmisikan virus Zika, maka ada kemungkinan virus tersebut juga akan menyebar di Amerika Serikat.


4. Apa yang harus dilakukan untuk melindungi diri dari Zika?

Dengan belum adanya pengobatan atau vaksin yang tersedia, satu-satunya perlindungan terhadap Zika adalah menghindari perjalanan ke daerah-daerah yang terjangkit virus tersebut.

Jika Anda tetap akan melakukan perjalanan karena sesuatu hal, CDC menyarankan penggunaan obat anti nyamuk, memakai celana dan kemeja lengan panjang cukup tebal untuk mencegah gigitan nyamuk, tidur di ruangan berpendingin, dan menggunakan kelambu.

Jika Anda mulai terinfeksi Zika, Anda dapat mencegah penyebaran kepada orang lain dengan menghindari gigitan nyamuk selama minggu pertama.

Virus Zika pada umumnya dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti betina yang lebih agresif siang hari hingga senja. Oleh karena itu, perlu menjaga pintu rumah tetap tertutup untuk mencegah nyamuk Aedes Aegypti betina masuk ke rumah dan kamar hotel. Jika itu tidak mungkin, coba berlindung di dalam kelambu.


5. Apa yang dilakukan untuk menghentikan Zika?

Para peneliti hingga saat ini masih bekerja keras di laboratorium di seluruh dunia mencoba membuat vaksin Zika. Namun, Anda dapat menerapkan teknik pengendalian nyamuk secara tradisional seperti penyemprotan pestisida, tidak membuat genangan air pada pot dan ember guna mengurangi tempat nyamuk berkembang biak.

Selain itu, cara lain yang sedang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan mengurangi populasi nyamuk. Perusahaan dari Inggris, Oxitec, sedang berusaha membuat cara lain untuk membasmi Zika yaitu memodifikasi genetik nyamuk jantan atau dikenal nyamuk mutan (OX513A ).

OX513A dirancang untuk menghentikan penyebaran Zika dengan melewati sepanjang gen yang membuat keturunannya mati. Nantinya, setiap OX513A membawa penanda fluorescent, sehingga ia dapat dilacak oleh para ilmuwan.

Oxitec mengklaim bahwa cara ini sudah dicoba dan terbukti ampuh menurunkan populasi nyamuk penyebar virus Zika. Hal itu terlihat dari tahapan uji coba lapangan di Brasil pada 2011 yang sangat sukses.
Menurut Oxitec, OX513A mampu menghilangkan hingga 99 persen populasi nyamuk. Bahkan, pada 2014 pengujian kembali dilakukan di daerah Pedra Branca, Brasil. Hasilnya, 92 persen sukses. Serangkaian pengujian juga telah dilakukan di Kepulauan Cayman, Malaysia, dan Panama.

Tahun lalu, Oxitec mengumumkan rencana membangun fasilitas produksi OX513A nyamuk di Piracicaba, Brasil. Cara ini diyakini dapat melindungi 300 ribu warga dari serangan virus Zika.

Kista Ovarium



 Image result for kista ovarium

A.     Kista Ovarium
I.    Pengertian :                                                                                            
Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong

II. Pembagian tumor ovarium :
a.      Tumor Nonneoplastik.
1)      Tumor akibat radang
2)      Tumor lain :
·          Kista folikel
·          Kista korpus luteum
·          Kista lutein
·          Kista inklusi germinal
·          Kista endometrium
·          Kista stein – Leventhal.

b.      Tumor neoplastik
1)    Tumor Jinak
a) Tumor Kistik
·          Kistoma ovari simpleks
·          Kistadenoma ovari serosum
·          Kistadenoma ovari musinosum
·          Kista endimetroid
·          Kista dermoid.
b) Tumor Solit
·         
4
4. Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, linfangioma.
·          Tumor brenner
·          Tumor sisa adrenal
2)      Tumor ganas Ovarium.

III.     Gambaran klinik tumor ovarium
     Pertumbuhan tumor ovarium dapat memberikan gejala karena besarnya, terdapat perubahan hormonal atau penyulit yang terjadi.
            Timor jinak ovarium yang diameternya kecil sering ditemukan secara kebetulan dan tidak memberikan gejala klinis yang berarti.

            Gejala akibat tumor ovarium dapat dijabarkan sebagai berikut :
1.      Gejala akibat pertumbuhan
§  Menimbulkan rasa berat diabdomen bagian bawah.
§  Mengganggu miksi atau defekasi.
§  Tekanan tumor dapat menimbulkan obstipasi atau oderma pada tungkai bawah.
2.      Gejala akibat perubahan hormonal
      Ovarium merupakan sumber hormone utama wanita, sehingga bila menjadi tumor menimbulkan gangguan terhadap patrun menstruasi. Tumor sel granulose dapat menimbulkan hipermenorea, sedang tumor arhenoblastoma menimbulkan amenorea.
3.      Gejala klinik akibat vkomplikasi yang terjadi pada tumor
a. Perdarahan intra – tumor
§  Perdarahan, menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan yang cepat.
b. Perputaran pada tungkai
§  Tumor bertangkai sering terjadi perputaran tangkai secara perlahan sehingga tidak banyak menimbulkan rasa nyeri andomen
§  Perputaran tangakai mendadak menimbulkan rasa nyeri abdomen mendadak dan segera memerlukan tindakan medis.
c.       Terjadi infeksi pada tumor
§  Karena suatu hal terjadi infeksi kista ovarium sehingga menimbulkan gejala infeksi, yaitu badan panas, nyeri pada abdomen menggangu aktifitas sehari – hari.
d.      Robekan dinding kista
      Pada torsi tungkai kista ada kemungkana terjadi robekan sehingga isi kista tumpah keda;lam ruangan abdomen.
e.      Degenerasi ganas kista ovarium :
§  Kista pada usia sebelum menarche
§  Kista pada usia diatas 45 tahun
4.      Sindrom meigs
Sindro yang diketemukan oleh meigs menyebutkan terdapat fibroma ovarii. Asites, dan hidrotoraks. Dengan tindakan opwerasi fibroma ovarii, maka sindrom akan hilang dengan sendirinya.

IV.     Diagnosis kista ovarium
Pembesaran pada abdomen bagian bawah merupakan salah atu keluhan yang mendorong wanita untuk melakukan pemeriksaan . Tumor ovarium dibedakan saat melakukan pemeriksaan dalam. Menghadapi tumor jinak varium perlu dilakukan pemeriksaan tentanag kosistensi, besar permukaannya dan sebagainya.
Disamping itu perlu dilakukan diagnosis banding :
1.      Kehamilan
§  Terlambat bulan
§  Gejala hamil muda
§  Terasa gerakan janin atau balotment
§  Hasil pemeriksaan laboratorium mendukung

2.      Subserosa mioma uteri bertangkai
Sulit ditemukan dengan tumor ovarium padat
Dengan alat canggih ultrason0ografi, diagnosis banding antara kista ovarium, kehamilan atau subserosa mioma uteri dapat dibedakan dengan jelas.
Bila bidan dalam tugasnya dapat menegakkan tumor dibagian bawah abdomen, segera melakukan konsultasi atau merujuk ke puskesmas atau langsung kedokter ahli kandungan.Tumor ovarium memerlukan tindakan yang spesialistis. Bidan bertugas untuk memerlukan komunokasi, informasi, edukasi, dan motivasi.(KIEM) tentang pemgobatan tumor dengan poengobatan modern dan tindakan operasi.


V.  Patofisiologi Kista ovarium.


 








Penekanan Daerah sekitar
1.Gangguan miksi ( BAK )        1.Hiperminorea(sel granulosa) 1. Perdarahan lokal
2.Gangguan konstipasi(BAB)    2. Aminorea (Arhenoblastoma) 2. Putaran tangkai (nyeri).
3.Udema pada tungkai                                                                3. Infeksi pd tumor
                                                                                                      4. Robek dinding kista



 


PELAKSANAAN PROGRAM TERAPI


 



1. OPERASI                    2. MEDIKAMENTASA                     3. RADIUM
(masalah yg mungkin muncul : Nyeri, Cemas, resiko infeksi,resiko gagalnya terapi, resiko bahaya radiasi)


 


        Mekanisme koping baik                                               Mekanisme koping jelek
 

                    Kooperatif                                                                 Kecemasan
VI. Kemungkinan Diagnosa Yang muncul
1.      Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor.
2.      Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
3.      Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
4.      Resiko gangguan BAB / BAK berhubungan dengan penekanan daerah sekitar tumor.
5.      kemungkinan masalah yang timbul pada pasien kista ovarii intra op. perdarahan, cemas, syok, hipovolemik, serta nyeri.

VII. Intervensi.
1.      Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
      (Tujuan : Setelah 1 X 24 Jam diberi tindakan asuhan kebidanan gangguan rasa nyaman  (cemas)  berkurang.
a.      Kaji  dan pantau terus tingkat kecemasan klien.
      (R/ mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman tindakan selanjutnya ).
b.      Berikan penjelasan tentang semua permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya.
      (R/ Informasi yang tepat menambah wawasan klien sehingga klien tahu tentang keadaan dirinya ).
c.       Bina hubungan yang terapeutik dengan klien.
      (R/ Hubungan yang terapeutuk dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.



2.      Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor.
      (Tujuan: Setelah diberi tindakan asuhan kebidanan selama 24 jam , nyeri berkurang atau hingga sampai hilang sama sekali).
a.      Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
      (R/ mengidentifikasi lingkup masalah).
b.      Atur posisi senyaman mungkin.
      (R/ Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri.)
c.       Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
      (R/menghilangkan rasa nyeri).
d.      Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
      (R/ melancarkan  peredaran darah dan kebutuhan O2 pada nyeri terpenuhi).

3.      Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang memperhatikan kebersihan dan kestrerilan
      (Tujuan : Selama dalam perawatan, infeksi luka operasi tidak terjadi)
a.Pantau dan observasi terus tentang keadaan luka operasinya.
      R/ Deteksi dini tentang terjadinya infeksi yang lebih berat ).
b.Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik dan antiseptik.
      (R. menekan sekecil mungkin sumber penularan eksterna ).
c. Kolaborasi dalam pemberian antibiotika.
      (Membunuh mikro organisme secara rasional ).

B.      ASUHAN KEBIDANAN PRE OPERATIF
PENGKAJIAN
Point penting dalam riwayat kebidanan preoperative :
·         Umur
·         Alergi terhadap obat, makanan
·         Pengalaman pembedahan
·         Pengalaman anestesi
·         Tembakau, alcohol, obat-obatan
·         Lingkungan
·         Kemampuan self care
·         Support system

PEMERIKSAAN FISIK
Pengkajian dasar preop dilakukan untuk :
·         Menentukan data dasar.
·         Masalah pengobatan yang tersembunyi.
·         Potensial komplikasi berhubungan dengan anestesi.
·         Potensial komplikasi post op.

Fokus : Riwayat dan sitem tubuh yang mempengaruhi prosedur pembedahan.
System kardiovaskuler
Untuk menentukan kekuatan jantung dan kemampuan untuk mentoleransi pembedahan dan anestesi.
Perubahan jantung à 39 % kematian perioperatif.

Sistem pernapasan
Lansia, smoker, PPOM à resiko atelektasis, kolap jaringan paru.
à Mencegah pertukaran oksigen/CO2
à Intoleransi karena perubahan dalam dada dan paru.
à Regiditas cavum thoraks dan menurunnya ekspansi paru à efisiensi ekskresi paru terhadap anestesi menurun.

Renal system
Abnormal renal fungsi menurunkan rata ekskresi obat dan anestesi
Skopolamin, morphin  à konfusi disorientasi

Muskulussceletal
Defomitas à mempengaruhi posisi intra dan post-operasi
Artritis à menerima posisi à nyeri post-operasi oleh karena immobilisasi
Status Nutrisi
Malnutrisi, obesitas à resiko tinggi pembedahan
Vit. C, vit.B diperlukan untuk penyembuhan luka dan pembentukan fibrin.
Obesitas à wondhiling menurun oleh karena jaringan lemak tinggi

Psikososial asesment
Tujuan : menentukan kemampuan coping
Informasi
Support

Laboratorium
Analisis:
  1. Pengetahuan kurang sehubungan dengan pengalaman pre-op
  2. Kecemasan sehubungan dengan pengalaman pre-op.

Planning :
Pengetahuan kurang ( knowledge defisite )
Tujuan : Klien mengatakan dan mematuhi prosedur pre-op
              Mendemostrasikan teknik untuk mencegah komplikasi post-op
Intervensi
Fokus               : Edukasi pre-operasi
Informasi         : Informed consent, pembatasan diit, pre-operatip preparation, post-op exersice.

Informed Consent :
·         Alasan pembedahan
·         Pilhan dan resikonya
·         Resiko pembedahan
·         Resiko anestesi

Pembatasan diit à NPO (nothing per oral )à 6 – 8 jam sebelum pembedahan GI (gastro intestinal ) preparasi :
·         Mencegah perlukaan colon
·         Melihat jelas area
·         Mengurangi bacteri intestina
Skin preparasi
Tube, drain, I V line

Post – op  exercise :
·         Diaphragmatic breating
·         Incestive spirometri
·         Cougling and spinting the surgical wound
·         Turning and leg exercise
Kecemasan :
Tujuan : kecemasan klien menurun , menunjukkan relaksasi saat istirahat
Intervensi :
·         Preoperatip teaching
·         Comunikatif



DAFTAR PUSTAKA

Wiknjosastro, Hanifa. 2008. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta.
Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta; Media Aesculapius. FKUI
Mohtar Rustam. 1999. Sinopsis Obstetris, Obstetri Fisiologis, Obstetri Patologi Edisi 2. Jakarta; EGC.
Prawirto Hardjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kandungan Edisi 2. Jakarta; Yayasan Bina Pustaka.
http://hasgurstika.blogspot.com/2011/02/askep-kista-ovarium.html
http://healthreference-ilham.blogspot.com/2008/07/kondas-kista ovarium.html