Saturday, 24 September 2011

DECOMPENSASI CORDIS


ASUHAN

PADA KLIEN DENGAN DECOMPENSASI CORDIS


1.      Konsep Medis
1)      Definisi
Decompensasi cordis adalah suatu keadan patologis, adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal memompah darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian ventrikel kiri. (Soeparman, 1998 : 975)
2)      Etiologi
(1)   Kelainan Mekanis
a.       Peningkatan beban tekanan
-          Sentral (Stenosis aorta dan sebagainya)
-          Perifer (Hipertensi sistemik)
b.      Peningkatan beban volume (Regurgitasi katup, pirau)
c.       Obstruksi terhadap pengisian ventrikel (stenosis mitralis atau trikuspidalis)
d.      Tamponade perikardium
e.       Retriksi endokardium
f.       Anuerisma ventrikel
g.      Dis sinergi ventrikel
(2)   Kelainan Miokardium
a.       Primer
-          Kardiomiopati
-          Miokarditis
-          Kelainan metabolik
-          Toksisitas


b.      Kelainan dis dinamik sekunder (sekunder terhadap kelainan)
-          Kekurangan O2
-          Kelainan metabolik
-          Inflamasi
-          Penyakit sistemik
-          Penyakit paru obstruksi menahun
c.       Berubahnya irama jantung atau urutan konduksi
-          Henti jantung
-          Fibrilas


4)      Manifestasi Klinik
Kriteria Diagnosis gagal jantung
Tanda dan gejala
1.      Mayor
a.       PND (paroxysmal nocturnal dyspnoe)
b.      Kardiomegali
c.       Gallop
d.      Peningkatan JVP
e.       Refluk hepatojugular
f.       Ronchi (akhir inspirasi)
2.      Minor
a.       Edema pergelangan kaki
b.      Batuk malam hari
c.       Dyspnoe on effort
d.      Pembesaran hati
e.       Efusi pleura
f.       Takikardi
Kelas fungsional menurut NYHA (New York Heart Association)
Kelas I       :  Tidak terbatas aktivitas fisik sehari-hari tidak menyebabkan lelah sesak nafas / palpitasi
Kelas II     :  Sedikit pembatasan aktivitas fisik. Aktivitas sehari-hari menyebabkan lelah, palpitasi. Sesak nafas / angina
Kelas III    :  Aktivitas fisik sangat terbatas saat istirahat tanpa keluhan namun aktivitas kurang dari sehari-hari menimbulkan gejala.
Kelas IV    :  Tidak mampu melakukan aktivitas fisik apapun tanpa keluhan. Gejala gagal jantung tibmul bahkan saat istirahat dan bertambah berat bila melakukan aktivitas.



5)      Penatalaksanaan
Yang ideal adalah koreksi terhadap penyakit yang mendasari, akan tetapi sering tindakan ini tidak dapat dilaksanakan
Tujuan terapi gagal jantung :
Primer :
Meningkatkan kualitas hidup
Meningkatkan harapan hidup
Subsider :
Mengurangi keluhan
Meningkatkan kapasitas latihan
Mengurangi aktivasi neuroendokrine
Memperbaiki hemodinamik
Mengurangi aritmia
Pendekatan Penatalaksanaan pada Penderita Gagal Jantung Kongestif :
1.      Tentukan dan koreksi terhadap penyakit yang mendasari
2.      Mengendalikan faktor-faktor pencetus atau penyulit
3.      Tentukan derajat gagal jantung
4.      Mengurangi beban jantung (mengurangi aktivitas fisik dan berat badan)
5.      Memperbaiki kontraktilitas (fungsi) miokard
6.      Koreksi terhadap retensi garam dan air
7.      Evaluasi apakah ada kemungkinan dilakukan koreksi bedah
8.      Terapi medikal :
-          Kurangi beban jantung
-          Restriksi konsumsi garam
-          Restriksi air
-          Diuretika
-          Vasodilator / inhibitor ACE


Terapi gagal jantung terdiri atas :
1.      Terapi spesifik terhadap kausa yang mendasari gagal jantung (revaskularisasi pada PJK, penggantian katup untuk penyakit katup yang berat)
2.      Terapi non spesifik terhadap sindroma klinis gagal jantung

Dasar-dasar terapi Gagal Jantung Kongestif

Masalah
Terapi
Preload meningkat
Restriksi garam, diuretika, venodilator
Curah jantung rendah, tahanan vaskuler sistemik meningkat
Arteriolar dilator / inhibitor ACE
Frekuensi denyut jantung cepat
Fibrilasi atrial
Takikardia sinus

Tingkatkan blok Atrio-Ventrikuler
Perbaiki kemampuan ventrikel-kiri



LANDASAN ASKEP
1.      Pengkajian
              i.      Anamnesa
1.      Biodata : lebih sering pada orang tua
2.      Keluhan utama
Sesak nafas
3.      RPS
Dispneo pada istirahat atau pada pengerahan tenaga
4.      RPD
Penyakit paru menahun, hipertensi, IMA, angina pectoris, miokarditis, kelainan metabolik dan lain-lain
5.      RPK
Keluarga ada yang menderita hipertensi, PPOM
6.      ADL
a.       Pola Nutrisi
b.      Anoreksia, BB menurun karena intake menurun atau BB meningkat karena odema, asites terjadi pada gagal jantung kanan
c.       Pola aktivitas
d.      Ketidakmampuan dalam beraktivitas rutin dan kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari
e.       Pola istirahat tidur
f.       Kesulitan tidur karena sesak dan nukturia, menggunakan 2 s/d 3 bantal
g.      Pola eliminasi
h.      Perubahan pola BAK karena pengobatan deuretik dan perubahan aliran darah ke ginjal
7.      Riwayat Psiko Sosial dan Spiritual
Cemas karena sesak nafas dan penyakit kronis, kekhawatiran yang berlebihan, takut meninggal
            ii.      Pemeriksaan Fisik
1.      Cardiovaskuler
Tachicardi, bunyi jantung S3, gallop, aritmia atrium dan vertikel, distensi vena jugularis, mur-mur, pulse lemah
2.      Paru
Sesak napas, batuk non produktif
3.      Neurologi
Mudah tersinggung atau marah, gangguan memori, bingung
4.      Gastroentistinal
Distensi abdomen, mual, pembesaran hepar, nyeri di atas liver
5.      Renal
Penurunan urine out put
6.      Integument
Oedema, sianosis, clubing finger
7.      Muskuloskletal
Lemah dan tidak bertenaga, kekuatan otot menurun
          iii.      Pemeriksaan penunjang
1.      Pemeriksaan laboratorium
a.       Serum elektrolit
b.      GDA
c.       Protombin time
d.      BUN
2.      Pemeriksaan foto thorak
Pembesaran jantung
3.      ECG
Hipertropi atrium dan ventrikel
4.      Eko Kardiogram
Ditemukan perubahan fungsi atau struktur katub, penurunan kontrak ventrikel
2.      Diagnosa yang Mungkin Timbul
(1)   Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokard
(2)   Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 / kebutuhan
(3)   Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya laju filtrasi gloumerulus
(4)   Resiko tinggi pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler alveolus
(5)   Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama
(6)   Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi program pengobatan berhubungan dengan terulangnya episode GJK yang dapat dicegah
3.      Rencana Keperawatan
Intervensi
Diagnosa I
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardial
Kriteria :
(1)   Menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
(2)   Melaporkan penurunan episode dispnea
(3)   Ikut serta dalam aktivitas yang mengurangi beban kerja jantung
Intervensi :
(1)   Catat bunyi jantung
R/  :  S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa
(2)   Palpasi nadi perifer
R/  :  Penurunan curah jantung dapat menunjukkan menurunnya nadi radial, poplitea, dorsalis pedis.

(3)   Pantau tekanan darah
R/  :  Pada GJK dini, sedang / kronis tensi dapat meningkatkan sampai dengan SVR 
(4)   Panta haluaran urine
R/  :  Ginjal berespon menurunkan curah jantung dengan menahan cairan dan natrium
(5)   Berikan sediaan O2
R/  :  Meningkatkan persediaan O2 untuk kebutuhan miokard dan melawan efek hipoksemia
(6)   Berikan obat sesuai indikasi
Deuretik : R/ : Mempengaruhi reabsorbsi natrium dan air
Vasodilator : R/ : Meningkatkan curah jantung
Captopril : R/ Untuk mengontrol kerja jantung
Diangosa 2
Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2
Kriteria :
(1)   Berpatisipasi pada aktivitas yang diinginkan untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri
Intervensi
(1)   Periksa tanda vital sebelum dan setelah aktivitas
R/  :  Hipotensi ortostatik dapat terjadi karena efek obat 
(2)   Catat respon cardiopulmonal terhadap aktivitas
R/  :  Penurunan miokard untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas
(3)   Evaluasi peningkatan intoleran aktivitas
R/  :  Menunjukkan peningkatan decopensasi jantung dari kelebihan cairan
(4)   Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri
R/  :  Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien tanpa mempengaruhi stress miokard
DAFTAR PUSTAKA


Dongoes, ME (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi ke 3, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

RSUD Dr. SOETOMO (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab / UPF Ilmu Penyakit Jantung, Surabaya.

Soeparman (1999), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Pustaka, Penerbit FKUI, Jakarta.

Sylvia Anderson (1994), Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Alih Bahasa, Adi Dharma, Edisi II


3) Patofisiologi
GAGAL JANTUNG


 

Efektivitas aliran darah menurun
Perubahan hemodinamika gagal jantung kanan dan kiri
Penurunan cardicac output

Sekresi renin angio tensin meningkat

Vasokonstriksi
ginjal
Sekresi ADH meningkat
Rangsangan syaraf simpatis
Pengaktivan renin angiotensin
Hipertrofi ventrikel
Sekresi aldosteron meningkat
GFR meningkat





Rearbsorbsi NA pada tubuh distal
Rearb. Na & H2O pada tubuli proximal
Arbs. H2O pada tubuli distal meningkat


 



Peningkatan kontraksi dan vasokontriksi
Rearbsorbsi natrium
Peningkatan kebutuhan O2 miocard

Retensi ginjal
 H2O + Na







Volume plasma meningkat

Transudasi cairan





Edema





G3 fungsi pompa ventrikel kiri


Gangguan fungsi pompa ventrikel kanan
Curan jantung kiri menurun dan tek. Diastolik ventrikel kiri meningkat


Curan jantung kanan menurun dan tek. diastolik vent. kanan meningkat
Bendungan PD V. Pulmonal dan peningkatan tek dlm vena pulmonal

Bendungan pada atrium kanan dan peningkatan tek. dlm atrium kanan
Bendungan PD paru (edema paru)


Bendungan vena sistemik dan peningkatan tek. dlm vena sistemis (cava)
Bendungan pada arteri pulmonalis


Hambatan arus balik vena (venous retum) bendungan sistemis
Beban sistolik pada ventrikel kanan

EDEMA PERIFER

No comments:

Post a Comment