Tuesday, January 22, 2013

KETERAMPILAN PROSES MEMBUAT DEFINISI OPERASIONAL DAN MENGINTERPRESTASI DATA

Definisi Operasional
Definisi operasional adalah salah satu kunci untuk pengumpulan data yang baik.

Apakah yang dimaksud dengan definisi operasional?

Definisi operasional adalah jelas, singkat, definisi rinci tentang ukuran. Anda perlu definisi operasional ketika mengumpulkan semua jenis data. Hal ini sangat penting ketika keputusan sedang dibuat mengenai apakah ada sesuatu yang cacat atau tidak cacat atau apakah ada cacat atau tidak. Sebagai contoh, bagaimana Anda tahu apakah pengiriman tepat waktu atau tidak tepat waktu? Pengumpulan data akan berarti jika definisi tepat waktu belum ditentukan. Dengan demikian, definisi operasional harus dikembangkan dan diuji sebelum pengumpulan data dimulai.

Bagaimana definisi operasional dikembangkan?

Enam langkah dalam mengembangkan definisi operasional diberikan di bawah ini.

1.
 Mengidentifikasi karakteristik yang anda tarik.
Pada langkah ini, cukup mengidentifikasi karakteristik Anda ingin mengukur.

Contoh: Keakuratan Picking Harian

2.
 Pilih alat ukur.
Alat ukur adalah salah satu bagian fisik peralatan ukur (seperti mikrometer, skala,  tester, tester tarik atau jam) atau pemeriksaan visual. Anda mungkin ingin memasukkan standar jika Anda melakukan cek visual. Misalnya, Anda mungkin akan menilai warna produk. Anda harus memasukkan standar-standar yang menunjukkan rentang warna diterima.

Contoh: Sebuah inspeksi visual dari item yang ada dan kuantitasnya adalah alat ukur untuk memilih akurasi.


3. Uraikan metode pengujian dan / atau kriteria.
Jika peralatan ukur adalah bagian fisik peralatan pengukuran, metode uji sederhana prosedur untuk mengambil pengukuran. Tingkat akurasi perlu dinyatakan. Misalnya, jika Anda mengukur berapa lama membawa sesuatu, apakah Anda mengukur dalam hitungan detik, menit, interval 15 menit, dll? Visual cek juga membutuhkan kriteria.

4.
 Lakukan tes dan mencapai keputusan
Pada langkah ini dilakukan pengujian dan keputusan tercapai. Apakah item tersebut memenuhi kriteria?Apakah ada masalah?

5.
 Dokumen Definisi Operasional
Tuliskan informasi dalam langkah 1 sampai 4. Definisi operasional harus disertakan dalam semua materi pelatihan dan prosedur operasi standar.

6.
 Uji definisi operasional.
Sebelum menerapkan definisi operasional, menguji itu dalam skala kecil. Sebagai cntoh :  Anda dapat meminta beberapa pemulung untuk mengambil data selama seminggu. Mereka mungkin akan memiliki masukan tentang cara meningkatkan definisi operasional. Periksa hasil mereka. Apakah mereka benar?
Pembentukan Definisi Operasional
Misalkan kelas Anda dan kelas lain bekerja sama dalam experiment. mencoba untuk menentukan jenis bola roll yang tercepat. Saat percobaan, Anda semua ingin membandingkan data Anda, sehingga Anda semua harus melakukan percobaan
dengan cara yang sama. Itu berarti bahwa setiap kali tim mengulangi pengamatan tim lain, mereka harus menggunakan bahan yang sama dan prosedur setiap tim lain. Mereka juga harus membuat pengukuran mereka dengan cara yang identik.Parailmuwan juga mengulangi penyelidikan mereka sendiri dan orang lain untuk memastikan bahwa data yang spesifik yang handal. Untuk membuat pos-perulangan
jawab, para ilmuwan mengguna kadefinisi operasional.
Definisi operasional adalah yang menggambarkan bagaimana sebuah variabel tertentu yang akan diukur, atau bagaimana sebuah objek atau kondisi itu harus diakui. Definisi operasional memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan atau
apa yang harus amati. (Kata “operasional” berarti “menggambarkan apa yang harus dilakukan.”)
definisi operasional harus jelas dan tepat sehingga pembaca tahu persis
apa untuk mengamati atau mengukur.
Contoh : Untuk mengukur denyut nadi seseorang, tempat telunjuk dan tengah
jari ringan di bagian dalam pergelangan tangan seseorang dan menemukan arteri pemukulan.

Interpretasi Data
Sebelum melakukan penyelidikan sebaiknya terlebih dahulu belajar bagaiman cara menginterpretasikan data atau menafsirkan hasil observasi kuantitatif. Interpretasi data biasanya melibatkan organisassi data kedalam tabel atau gambar /bagan.
Membuat hasil pengamatan atau observasi menjadi lebih bermakna disebut interferensi data. Perlu diingat bahwa IPA dimulai dari suatu pertanyaan. Sering terjadi hipotesis yang dibuat berfungsi untuk memprediksi/meramalkan jawaban untuk pertanyaan yang telah dibuat. Kemudian penyelidikan dirancang dan dilaksanakan.
Dari hasil penyelidikan diperoleh data hasil percobaan, data interpretasi lebih mudah dipahami setelah melalui beberapa percobaan.
Kemampuan untuk menginterpretasikan data yang disajikan dalam tabel, grafik dan diagram adalah persyaratan umum
Masalah interpretasi data biasanya memerlukan dua langkah dasar. Pertama, Anda harus membaca diagram atau grafik untuk memperoleh informasi tertentu. Kemudian Anda harus menerapkan atau memanipulasi informasi untuk memperoleh jawaban. Pertanyaan ini sering menggunakan ilustrasi yang sangat spesifik, misalnya pertanyaan menampilkan data keuangan. Namun, pemahaman tentang keuangan tidak akan diperlukan untuk menjawab pertanyaan.
Pertanyaan interpretasi data sangat banyak digunakan untuk menilai kandidat lulusan baru dan tingkat manajerial. Banyak orang yang telah keluar dari sistem pendidikan untuk sementara waktu atau lama tidak menggunakan dan menafsirkan grafik, diagram lingkaran, diagram pencar dan tabel data mungkin merasa gugup dengan jenis pertanyaan ini. Yang penting untuk diingat adalah bahwa Anda tidak perlu telah mempelajari matematika tingkat tinggi untuk dapat berhasil, khususnya tes intrepretasi data. Pertanyaan-pertanyaan ini, terutama tes interpretasi data, matematika mutlak diperlukan.
Anda biasanya untuk jenis pertanyaan dan dapat menangani pecahan dan persentase adalah perlu. Anda juga harus mungkin akan diperbolehkan untuk menggunakan  kalkulator mencoba untuk bekerja melalui beberapa latihan perhitungan angka untuk mendapatkan kembali pola pengerjaan untuk jenis perhitungan tersebut.
Anda telah mengetahui cara mengobservasi, membuat inferensi, mengidentifikasi dan membuat prediksi. Jadi, anada telah memiliki cukupketerampilan proses IPA. Sebelum anda melakukan suatu penyelidikan, sebaiknya anda terlebih dahulu belajar bagaimana caranya menginterprestasikan data atau menafsirkan hasil observasi kuantitatif.
Interprestasi data biasanya melibatkan organisasi data ke dalam tabel atau gambar/bagan. Interprestasi data ajuga dapat di lakukan dengan jalan membuat gambar atau grafik dari hasil pengamatan, biasanya melibatkan usaha-usaha penulisan hasil observasi, membuat kesimpulan, inferensi/penafsiran dan merekomendasi. Sedangkan inferensi adalah pernyataan umum yang berfungsi untuk menjelaskan atau membuat kesimpulan menjadi bermakna. Rekomendasi adalah saran untuk tindakan di masa yang akan datang berdasarkan kesimpulan dan inferensi yang telah di buat.
“Membuat hasil pengamatan atau observasi menjadi bermakna di sebut interprestasi data.”.
Interprestasi data sangat penting karena makna dan pengertian yang di peroleh dapat di konsumsikan dengan baik. Bila kita melihat keterampilan proses dalam IPA, perlu di ingat bahwa IPA di mulai dari suatu pertanyaan. Sering terjadi, hipotesis yang di buat berfungsi untuk memprediksi/meramalkan jawaban untuk pertanyaan yang telah di buat. Kemudian penyelidikan di rancang dan di laksanakan.
Dari hasil penyelidikan biasanya di peroleh data hasil percobaan. Data yang di hasilkan kemudian di interprestasi, misalnya angka-angka di transfer ke dalam kata-kata atau kalimat untuk menjelaskan hasil. Terakhir si peneliti harus memutuskan apa arti dari kata-kata tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa di ajukan antara lain. Apakah ramalan yang telah di buat cukup akurat? Apakah satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya? Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah apakah yang harus di kerjakan berikutnya? Apakah yang harus di beritahukan kepada orang lain tentang penyelidikan yang di lakukan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah bagian dari data interprestasi.
Data interprestasi lebih mudah kita pahami setelah melelui beberapa percobaan. Kegiatan berikut ini akan mendukung pernyataan tersebut di atas. Dari aktivitas ini akan di coba untuk menyakijan data ke dalam dua format yang berbeda. Tugas anda adalah membandingkan kedua format penyajian data dengan jalan mencari perbedaaan dan persamaannya.
Format 1. Penyajian data dalam bentuk deskripsi
Matahari kita memiliki temperatur permukaan sekitar 10.0000 F Merkurius adalah termasuk planet dalam dengan jarak yang paling dekat dengan matahari, memiliki temperatur permukaan sekitar 6200 F: Planet berikut adalah Venus, memiliki temperaturpermukaan sekitar 900 F. Planet tempat kita tinggal memiliki temperatur permukaan sekitar 720 F. Mars adalah planet yang ke-4 memiliki temperatur  permukaan sekitar -100 F. Jupiter adalah planet berikutnya, memiliki temperatur permukaan sebesar -3000 F: Uranus adalah planet berikutnya, memiliki temperatur permukaan sebesar -3400 F. Neptunus adalah planet yang terjauh dari matahari dan temperatur permukaannya tidak dapat di ukur. Tetapi banyak yang percaya bahwa temperatur permukaannya sangat dingin.
Format 2. Penyajian data dalam bentuk tabel
No Planet dalam tata surya Temperatur Permukaan
1 Merkurius 620 F
2 Venus 900 F
3 Bumi 72 F
4 Mars -10 F
5 Yupiter -240 F
6 Saturnus -300 F
7 Uranus -340 F
8 Neptunus -370 F
9 Pluto Tidak di ketahui


Kesimpulan
Definisi Operasional adalah metode untuk memberi definisi, mengukur, atau mendeteksi adanya suatu variabel. Sebagai contoh anda disuruh membedakan 3 buha definisi operasional untuk mengukur daya serap dari kertas tisu yang meliputi: mencelupkan, mengangkat, dan menuang. Definisi operasional mencelupkan adalah jumlah air yang dapat di serap oleh kertas tisu setelah di masukkan ke dalam gelas yang berisi air dengan volume tertentu. Volume air yang di serap adalah volume air mula-mula di kurangi dengan volume air setelah kertas tisu diangkat. Definisi operasional dari menyerap/mengangkat adalah volume air yang dapat di serap atau merambat ke dalam kertas tisu setelah kertas tisu di angkat. Definisi operasional dari menuang adalah volume air yang dapat di serap oleh kertas tisu setelah air di tuang ke dalam kertas tisu. Volume air yang di serap adalah volume air mula-mula dalam gelas di kurangi volume air yang tersisa dalam wadah penampung.
Membuat hasil pengamatan atau observasi menjadi bermakna di sebut interprestasi data. Interprestasi data biasanya melibatkan organisasi data ke dalam tabel, gambar dan bagan. Interpertasi data sangat penting untuk di kuasai karena akan sangat membantu kita dalam memberi makna dan pengertian yang di peroleh sehingga dapat di komunikasikan dengan baik.
Daftar pustaka
- http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN
- http://www.hollandchristian.org/science.6th.links.dvos/files/05_operationaldefinitions.pdf
- http://en.wikipedia.org/wiki/Operational_definition
- http://web.utk.edu/~wrobinso/540_lec_opdefs.html
- http://books.google.com/books?id=GnN2nEmpyIMC&pg=PA56
- Amalia sepriati, dkk .2008 Jakarta: Pembelajaran IPA di SD, Universitas Terbuka.

Wednesday, January 9, 2013

10 KIAT MENJADI ORANG PINTAR

1. Belajar itu memahami bukan sekedar menghapal

Ya, fungsi utama kenapa kita harus belajar adalah memahami hal-hal baru. Kita boleh hapal 100% semua detail pelajaran, tapi yang lebih penting adalah apakah kita sudah mengerti betul dengan semua materi yang dihapal itu. Jadi sebelum menghapal, selalu usahakan untuk memahami dulu garis besar materi pelajaran.

2. Membaca adalah kunci belajar

Supaya kita bisa paham, minimal bacalah materi baru dua kali dalam sehari, yakni sebelum dan sesudah materi itu diterangkan oleh guru. Karena otak sudah mengolah materi tersebut sebanyak tiga kali jadi bisa dijamin bakal tersimpan cukup lama di otak kita.

3. Mencatat pokok-pokok pelajaran

Tinggalkan catatan pelajaran yang panjang. Ambil intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah dibaca ulang. Kata-kata kunci inilah yang nanti berguna waktu kita mengulang pelajaran selama ujian.

4. Hapalkan kata-kata kunci

Kadang, mau tidak mau kita harus menghapal materi pelajaran yang lumayan banyak. Sebenarnya ini bisa disiasati. Buatlah kata-kata kunci dari setiap hapalan, supaya mudah diingat pada saat otak kita memanggilnya. Misal, kata kunci untuk nama-nama warna pelangi adalah MEJIKUHIBINIU, artinya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.

5. Pilih waktu belajar yang tepat

Waktu belajar yang paling enak adalah pada saaat badan kita masih segar. Memang tidak semua orang punya waktu belajar enak yang sama lo. Tapi biasanya, pagi hari adalah waktu yang tepat untuk berkonsentrasi penuh. Gunakan saat ini untuk mengolah materi-materi baru. Sisa-sisa energi bisa digunakan untuk mengulang pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumah.

6. Bangun suasana belajar yang nyaman

Banyak hal yang bisa buat suasana belajar menjadi nyaman. Kita bisa pilih lagu yang sesuai dengan mood kita. Tempat belajar juga bisa kita sesuaikan. Kalau sedang bosan di kamar bisa di teras atau di perpustakaan. Kuncinya jangan sampai aktivitas belajar kita mengganggu dan terganggu oleh pihak lain.

7. Bentuk kelompok belajar

Kalau lagi bosan belajar sendiri, bisa belajar bareng dengan teman. Tidak usah banyak-banyak karena tidak bakal efektif, maksimal lima orang. Buat pembagian materi untuk dipelajari masing-masing orang. Kemudian setiap orang secara bergilir menerangkan materi yang dikuasainya itu ke seluruh anggota lainnya. Suasana belajar seperti ini biasanya seru dan kita dijamin bakalan susah untuk mengantuk.

8. Latih sendiri kemampuan kita

Sebenarnya kita bisa melatih sendiri kemampuan otak kita. Pada setiap akhir bab pelajaran, biasanya selalu diberikan soal-soal latihan. Tanpa perlu menunggu instruksi dari guru, coba jawab semua pertanyaan tersebut dan periksa sejauh mana kemampuan kita. Kalau materi jawaban tidak ada di buku, cobalah tanya ke guru.

9. Kembangkan materi yang sudah dipelajari

Kalau kita sudah mengulang materi dan menjawab semua soal latihan, jangan langsung tutup buku. Cobalah kita berpikir kritis ala ilmuwan. Buatlah beberapa pertanyaan yang belum disertakan dalam soal latihan. Minta tolong guru untuk menjawabnya. Kalau belum puas, cari jawabannya pada buku referensi lain atau internet. Cara ini mengajak kita untuk selalu berpikir ke depan dan kritis.

10. Sediakan waktu untuk istirahat

Belajar boleh kencang, tapi jangan lupa untuk istirahat. Kalau di kelas, setiap jeda pelajaran gunakan untuk melemaskan badan dan pikiran. Setiap 30-45 menit waktu belajar kita di rumah selalu selingi dengan istirahat. Kalau pikiran sudah suntuk, percuma saja memaksakan diri. Setelah istirahat, badan menjadi segar dan otak pun siap menerima materi baru

Silakan DI-COPAS dan DI-SHARE !!!

... KISAH HARU SEORANG IBU ...

Seorang ibu mengintip dari celah pintu di dekat dapur. Mencoba menahan air matanya yang sudah terkumpul di matanya yang sudah mulai keriput. Hatinya sakit, setetes air mata yang ia tahanpun akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia terharu melihat keberhasilan anaknya, yang baru saja naik pangkat di Perusahaan tempat anaknya bekerja. Tapi layaknya seorang ibu, ia seharusnya berada di samping anaknya untuk ikut merasakan kebahagiaan.

Dalam hati Ia membatin, 'Selamat yaa Nak... Ibu juga bahagia jika melihat kau bahagia."

Sebuah kalimat yang tulus dari lubuk hati paling dalam dari seorang Ibu. Air matanya menyiratkan kebahagiaan, tapi miris melihat kenyataan yang ada. Tiba-tiba ia teringat perkataan anaknya.

"Pokoknya, kalau teman-teman dan atasanku datang, Ibu tidak boleh ikut merayakan bersama kami di ruangan itu dan jangan pernah bertemu dengan teman atau atasanku." kata anaknya dengan lantang.

"Aku tidak mau mereka tahu kalau aku punya ibu dengan satu mata dan penyakitan. Jadi Ibu lebih baik di dapur saja yaa." Anaknya mengucapkan kata-kata itu dengan enteng, tanpa memikirkan perasaan ibunya.

"Iya Nak."Sebuah jawaban yang begitu tulus dari mulut seorang ibu.

Anaknya yang lupa diri itu menikmati semua masakan bersama teman-temannya, semua makanan disiapkan oleh ibunya.

Kemudian salah satu atasannya bertanya, "masakan siapa ini ? enak sekali."

"Itu masakan Ibu saya, Pak." jawab si anak itu.

"Wah,masakannya enak sekali. Sampaikan salamku untuk Ibumu ya, katakan padanya bahwa saya menyukai masakannya yang lezat ini." tutur atasannya terkagum-kagum.

"Baik pak!" jawab anak muda itu.

Beberapa waktu kemudian, si anak itu kembali naik jabatan, untuk merayakannya ia kembali mengadakan acara makan-makan di rumah bersama teman-teman dan atasannya. Dan seperti sebelumnya, sang Ibu hanya ikut merayakan keberhasilan anaknya itu di dapur dan bersedih.

Teman-teman dan atasan si anak muda itu sangat menikmati masakan lezat sang Ibu. Masakan yang benar-benar lezat.

Kemudian atasannya berkata, "pasti ini masakan ibumu, kan?"

"Iya, Pak."

"Di mana beliau sekarang ?"

Sang anak kebingungan menjawab pertanyaan atasannya itu, ia mencoba mencari alasan agar mereka tidak tahu keadaan Ibunya.Tapi tiba-tiba atasannya melihat seorang ibu-ibu tua berada di dapur.

Iapun segera menghampiri ibu itu dan berkata, "Ibu yang memasak semua masakan ini,kan?"

Ibu itu sedikit ragu dan menjawab, "ii.iii...iiya, Pak."

"Wah masakan Ibu enak sekali. Saya sangat menikmatinya.Tapi mengapa Ibu tidak ikut makan bersama kami?"

Pertanyaan atasan anak ibu itu membuat sang ibu terdiam. Tiba-tiba si anak menghampiri Ibunya itu dengan menyeret ibunya ke belakang.

"Kan aku sudah bilang, Ibu tidak boleh bertemu dengan atasan atau teman-temanku. Aku malu!" si anak sangat marah.

"Maafkan Ibu, Nak" Ibu itu mencoba meminta maaf kepada anaknya.

Lalu anak itu berkata, "cukup Bu !!! mulai sekarang Ibu tidak boleh tinggal bersamaku lagi."

Sambil menangis, Ibu itu terus meminta maaf kepada anaknya. Tapi anak itu seperti berusaha tidak memperdulikan ibunya.

Pada akhirnya, anak muda tersebut membelikan sebuah rumah kecil untuk ditinggali ibunya. Hal itu ia lakukan agar tak ada yang tahu keadaan ibunya. Kasihan sekali ibunya, sudah sakit-sakitan dan dicampakan anaknya.

Kemudian sang anak kembali naik jabatan, kali ini adalah jabatan tertinggi. Sebuah acara yang lebih besar telah ia persiapkan. Tanpa Ibunya untuk menyiapkan hidangan seperti biasanya. Ibunya mengetahui kabar suka cita itu dan si ibu menitipkan sebuah surat kepada seseorang untuk di berikan kepada anaknya.

Dalam surat itu tertulis :

Untuk Anakku tersayang, ..
Selamat atas keberhasilanmu, Nak... Ibu sangat bahagia. Maaf Ibu tidak bisa datang, karena Ibu tahu kamu tidak menginginkan kedatangan Ibu. Ibu tahu kamu malu dengan keadaan Ibu, seorang Ibu yang hanya punya satu mata dan penyakitan pula.

Tapi perlu kamu ketahui Nak! salah satu mata ini kuberikan padamu, ketika kamu mengalami kecelakaan waktu kecil. Ibu rela Nak..Ibu rela..Asalkan kamu bahagia.

Buat teman-teman,jangan pernah Sia-siakan Ibu kalian. Kalian mungkin tidak pernah tahu seberapa besar pengorbanan seorang ibu untuk kita. Ibu akan melakukan apapun bahkan mengorbankan harta serta nyawa demi kebahagiaan kita.

U n I miss U so much.... Mom...!!

Friday, January 4, 2013

Hamba Apakah Aku?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipYxblCAicOOFX0-j6aBF2omYQ6yTqHk1SPsrRD0RQJ7nPNJpJ7SqW_r8EuC3WkQF7V5LCXcmCcsBfexygW_jKjbUdq_5JcbhAyThzvGnQ6q0x-rsH5HwvAqUDnZgTfCLOY1ZfPm5t2hyX/s320/40146.jpg
Azan sedang berkumandang.
"Ah...jap lagilah solat. Nak abeskan baca facebook dulu".
Bebola mataku yang sebelum ini berwarna tahi cicak, hitam putih beransur-ansur bertukar menjadi bebola api. Merahnya begitu menyengat.
"Aduhhhhh...Sakitnya mata. Lenguhnya tengkuk. Lah...patutlah dah kul 4 petang. Tak sedar plak dah lama main facebook".
Dan aku pun menunaikan solat Zohor tanpa nafsu sebagai hamba. Sekadar tonggang tonggek dan memberi salam kiri kanan. Bagai kilat menyambar begitulah kepantasan aku solat dengan doa yang paling pendek. Kadang-kadang tak doa pun.
Aku minta apa dalam doa pun aku tak tahu. Cuma mulut aku terkumat kamit membaca karangan Bahasa Arab. Jasadku di atas sejadah. Roh, jiwa dan fikiranku terbang menggapai langit-langit yang indah. "Oh! Ada awek cun add aku tadi. Jap lagi nak usha facebook dialah".
Semangatnya aku.
Aku ulangi tabiat yang sangat baik ini setiap hari. Berjam-jam lamanya aku di dunia internet. Macam-macam yang aku layari. Orang kata nak jelajah dunia kena belayar di laut. Aku jelajah dunia dengan belayar di internet.
Aku puas.
HAMBA APAKAH AKU?
Dunia internet. Facebook. Twitter. Blog. Agaknya ada lagi yang lebih penting daripada Allah?
Kita ini hamba. Hamba kepada Tuan yang sangat besar kuasa-Nya. Sangat tinggi kasih sayang-Nya. Dengan hanya sedikit limpahan rahmat-Nya dimasukkan ke dalam dada semua hamba-Nya. Kita mampu pula berkasih sayang sesama kita.
Mampu menghubungi antara satu sama lain dengan nikmat internet yang diberi Allah.
Dia yang mencipta kita. Untuk apa?
Semata-mata hanya untuk beribadat kepada Allah. Alah mencipta dunia dan segenap perhiasannya untuk dijadikan medan tarbiyyah buat kita. Ibarat mencipta akhirat untuk tempat penghisaban amalan dan mencipta pula neraka dan syurga sebagai tempat balasan kita. Ia tempat yang kekal abadi. Yang tidak ada kematian lagi. Ia tempat terakhir perjalanan roh.
Berfacebook, berchatting dan bermain game adakah suatu ibadat untuk kita persembahkan kepada Allah?Adakah dengan komponen-komponen di dalam aktiviti ini mampu menjadi batu asas binaan mahligai di syurga kelak?
Oh! Di mana nilai kita sebagai seorang hamba di mata Allah? Tidakkah kita risau?
Seorang hamba itu hidupnya tidak dihiasi dengan bermaksiat. Hatta "bermaksiat" dengan waktu. Hatinya seringkali diservis untuk perjalanan yang jauh menuju ke padang mahsyar. Dia telah bersiap siaga dengan bekalan amalan di dunia.
Tidak ada perintah yang lebih dijunjung oleh seorang hamba Allah itu melainkan perintah Allah.
Dia merdeka daripada keterikatan kepada makhluk, hawa nafsu dan kebendaan. Kebergantungannya hanya kepada Allah yang semakin hari semakin kuat, sehingga ia mampu hidup berdikari dan tidak mengharap ihsan orang lain.
Cukuplah Allah sebagai penghibur hatinya. Bukan internet. Bukan game. Bukan Facebook. Bukan movie Korea. Bukan chatting.
Itulah nilai seorang hamba Allah. Makin hari makin sayang dengan Allah. Makin hari makin tenang dalam dakapan kasih sayang Allah.
Seperti dalam firman Allah SWT dalam surah as-syams, manusia itu dikurniakan dua pilihan jalan, jalan KETAQWAAN  dan jalan kefasikan. Beruntunglah yang memilih jalan ketaqwaan dan merugilah yang memilih jalan kefasikan.

Friday, December 28, 2012

URINARY TRACT INFECTION


A.    Definition
A urinary tract infection (UTI) is a bacterial infection that affects any part of the urinary tract. Symptoms include frequent feeling and/or need to urinate, pain during urination, and cloudy urine. The main causal agent is Escherichia coli. Although urine contains a variety of fluids, salts, and waste products, it does not usually have bacteria in it, but when bacteria get into the bladder or kidney and multiply in the urine, they may cause a UTI.
The most common type of UTI is acute cystitis often referred to as a bladder infection. An infection of the upper urinary tract or kidney is known as pyelonephritis, and is potentially more serious. Although they cause discomfort, urinary tract infections can usually be easily treated with a short course of antibiotics with no significant difference between the classes of antibiotics commonly used.

B.     Signs and symptoms
The most common symptoms of a bladder infection are burning with urination (dysuria), frequency of urination, an urge to urinate, no vaginal discharge, and no significant pain. An upper urinary tract infection or pyelonephritis may also present with flank (abdominal) pain and a fever. Healthy women have an average of 5 days of symptoms.
The symptoms of urinary tract infections may vary with age and the part of the urinary system that was affected. In young children, urinary tract infection symptoms may include diarrhea, loss of appetite, nausea and vomiting, fever, and excessive crying that cannot be resolved by typical measures. Older children on the other hand may experience abdominal pain, or incontinence. Lower urinary tract infections in adults may manifest with symptoms including hematuria (blood in the urine), inability to urinate despite the urge, and malaise.
Other signs of urinary tract infections include foul-smelling urine and urine that appears cloudy.
Depending on the site of infection, urinary tract infections may cause different symptoms. Urethritis, meaning only the urethra has been affected, does not usually cause any other symptoms besides dysuria. However, if the bladder is affected (cystitis), the patient is likely to experience more symptoms, including lower abdomen discomfort, low-grade fever, pelvic pressure, and frequent urination, all together with dysuria.
Whereas in infants the condition may cause jaundice and hypothermia, in the elderly, symptoms of urinary tract infections may include lethargy and a change in mental status, signs that are otherwise nonspecific.

C.     Risk Factors
1.      Intercourse
In young sexually active women, sex is the cause of 75–90% of bladder infections, with the risk of infection related to the frequency of sex. The term "honeymoon cystitis" has been applied to this phenomenon of frequent UTI during early marriage. In post-menopausal women, sexual activity does not affect the risk of developing a UTI. Spermicide use, independent of sexual frequency, increases the risk of UTI.
2.      Gender
Women are more prone to UTIs than men because, in females, the urethra is much closer to the anus and is shorter than in males; furthermore, women lack the bacteriostatic properties of prostatic secretions. Among the elderly, UTI frequency is roughly equal in women and men. This is due, in part, to an enlarged prostate in older men. As the gland grows, it obstructs the urethra, leading to increased frequency of urinary retention.
3.      Urinary catheters
Urinary catheterization is a risk factor for urinary tract infections. The risk of an associated infection can be decreased by catheterizing only when necessary, using aseptic technique for insertion, and maintaining unobstructed closed drainage of the catheter. Infections can also be reduced by reducing the number of medically unnecessary catheters placed each year. In 2009, nearly 9.8m indwelling catheters were placed in hospitals with up to 38% considered medically unnecessary. Utilizing alternatives to indwelling catheters such as external collection devices, may significantly reduce catheter associated urinary tract infection (CAUTI).
4.      Others
A predisposition for bladder infections may run in families. Other risk factors include diabetes. While ascending infections are, in general, the rule for lower urinary tract infections, the same is not necessarily true for upper urinary tract infections like pyelonephritis, which may originate from a blood-borne infection.

D.    Pathogenesis
The most common organism implicated in UTI (80–85%) is E. coli, while Staphylococcus saprophyticus is the cause in 5–10%. The bladder wall, in common with most epithelia is coated with a variety of cationic antimicrobial peptides such as the defensins and cathelicidin which disrupt the integrity of bacterial cell walls. In addition, there are also mannosylated proteins present, such as Tamm-Horsfall proteins (THP), which interfere with the binding of bacteria to the uroepithelium. As binding is an important factor in establishing pathogenicity for these organisms, its disruption results in reduced capacity for invasion of the tissues. Moreover, the unbound bacteria are more easily removed when voiding. The use of urinary catheters (or other physical trauma) may physically disturb this protective lining, thereby allowing bacteria to invade the exposed epithelium.
During cystitis, uropathogenic Escherichia coli (UPEC) subvert innate defenses by invading superficial umbrella cells and rapidly increasing in numbers to form intracellular bacterial communities (IBCs). By working together, bacteria in biofilms build themselves into structures that are more firmly anchored in infected cells and are more resistant to immune-system assaults and antibiotic treatments. This is often the cause of chronic urinary tract infections.
E.     Prevention
The following are measures that studies suggest may reduce the incidence of urinary tract infections.
1.      A prolonged course (six months to a year) of low-dose antibiotics (usually nitrofurantoin or TMP/SMX) is effective in reducing the frequency of UTI in those with recurrent UTI.
2.      Cranberry (juice or capsules) may decrease the incidence of UTI in those with frequent infections. Long-term tolerance, however, is an issue. Subsequent research has questioned these findings.
3.      For post-menopausal women intravaginal application of topical estrogens was found to greatly reduce or prevent recurrent cystitis. As opposed to topical creams, the use of vaginal estrogen pessaries was not as useful as low dose antibiotics. E. coli continues to evolve multi-drug resistance, which bears on the evaluation of appropriate empiric therapy.
4.      Studies have shown that breastfeeding can reduce the risk of UTIs in infants.

A number of measures have not been confirmed to affect UTI frequency including: the use of birth control pills or condoms, voiding after sex, the type of underwear used, personal hygiene methods used after voiding or defecating, and whether one takes a bath instead of a shower.

F.      Diagnosis
In straight-forward cases, a diagnosis may be made and treatment given based on symptoms alone without further laboratory confirmation. In complicated or questionable cases, it may be useful to confirm via urinalysis, looking for the presence of nitrites, leukocytes, or leukocyte esterase, or via urine microscopy, looking for the presence of red blood cells, white blood cells, and bacteria (with presence of bacteria termed bacteriuria).
Urine culture showing a quantitative count of greater than or equal to 103 colony-forming units (CFU) per mL of a typical urinary tract organism along with antibiotic sensitives is useful to guide antibiotic choice. However, women with negative cultures may still improve with antibiotic treatment.
Most cases of lower urinary tract infections in females are benign and do not need exhaustive laboratory work-ups. However, UTI in young infants may receive some imaging study, typically a retrograde urethrogram, to ascertain the presence/absence of congenital urinary tract anomalies.

Differential diagnosis

If the urine culture is negative:
  1. Symptoms of urethritis may point at Chlamydia trachomatis or Neisseria gonorrheae infection.
  2. Symptoms of cystitis may point at interstitial cystitis.
  3. In men, prostatitis may present with dysuria.
The presence of bacteria in the urinary tract of older adults, without symptoms or signs of infection, is a well-recognized phenomenon that may not require antibiotics. This is usually referred to as asymptomatic bacteriuria. The overuse of antibiotics in the context of bacteriuria among the elderly is an issue of concern.
G.    Treatment
1.   Uncomplicated
Uncomplicated UTIs can be diagnosed and treated based on symptoms alone. Oral antibiotics such as trimethoprim, cephalosporins, nitrofurantoin, or a fluoroquinolone substantially shorten the time to recovery. All are equally effective for both short and long term cure rates. About 50% of people will recover without treatment within a few days or weeks. The Infectious Diseases Society of America recommends a combination of trimethoprim and sulfamethoxazole as a first-line agent in uncomplicated UTIs rather than fluoroquinolones. Fluoroquinolones are not recommended first line due to their cost and concern that over use will increase resistance and thus decrease the utility of this class for those with severe infections. Resistance has developed in the community to all of these medications due to their widespread use.
A three-day treatment with trimethoprim, TMP/SMX, or a fluoroquinolone is usually sufficient, whereas nitrofurantoin requires 7 days. Trimethoprim is often recommended to be taken at night to ensure maximal urinary concentrations to increase its effectiveness. While trimethoprim/sulfamethoxazole was previously internationally used (and continues to be used in the U.S. and Canada), the addition of the sulfonamide gives little additional benefit compared to the trimethoprim component alone. However, it is responsible for a high incidence of mild allergic reactions and rare but potentially serious complications. For simple UTIs, children often respond well to a three-day course of antibiotics.

2.   Pyelonephritis
A urinary tract infection that has reached the kidney (pyelonephritis) is treated more aggressively than a simple bladder infection using either a longer course of oral antibiotics or intravenous antibiotics. Regimens vary, and include SMX/TMP and fluoroquinolones. In the past, they have included aminoglycosides (such as gentamicin) used in combination with a beta-lactam (such as ampicillin or ceftriaxone). These are continued for 48 hours after fever subsides.
If there is a poor response to IV antibiotics (marked by persistent fever, worsening renal function), then imaging is indicated to rule out formation of an abscess either within or around the kidney, or the presence of an obstructing lesion such as a kidney stone or tumor.

3.   Recurrent
Women with recurrent simple UTIs may benefit from self-treatment upon occurrence of symptoms with medical follow-up only if the initial treatment fails.[4] Effective treatment can also be delivered over the phone.
H.    Epidemiology
Bladder infections are most common in young women, with 10% of women getting an infection yearly and 60% having an infection at some point in their life.[4] Pyelonephritis occurs between 18–29 times less frequently. Nearly 1 in 3 women will have had at least 1 episode of urinary tract infections requiring antimicrobial therapy by the age of 24 years.
The prevalence of urinary tract infections in pre-school and school girls is 1% to 3%, nearly 30-fold higher than that in boys. Approximately 5% of girls will develop at least one urinary tract infection during their school years.
Bacteriuria appears to increase in prevalence with age in women, still being 50 times greater than the one in males. It is estimated that bacteriuria will be experienced by 20 to 50% of older women and 5 to 20% of older men. In non-institutionalized elderly populations, urinary tract infections are the second-most-common form of infection, accounting for nearly 25% of all infections. The condition rarely occurs in men who are younger than 50 years old and who did not undergo any genitourinary procedure. However, the incidence of urinary tract infections in men tends to rise after the age of 50.
According to a 1997 survey, urinary tract infection accounted for nearly 7 million office visits and 1 million emergency department visits, resulting in 100,000 hospitalizations in the United States.

I.       In Pregnancy
Urinary tract infections are more concerning in pregnancy. If urine testing shows signs of infection even in the absence of symptoms (known as asymptomatic bacteriuria) women are treated. Treatment is typically with cephalexin or nitrofurantoin as while there are no adequate studies of these antibiotics in pregnant women, many women have safely used them during pregnancy. On the other hand, research has shown that pregnancy does not increase risk of asymptomatic bacteriuria. However, if the bacteriuria is not properly treated, it can significantly increase the risk of kidney infection in pregnant women. Pregnancy makes a woman particularly vulnerable to these infections. A pregnant woman may have high levels of progesterone in the blood, which decreases the muscle tone of the ureters and bladder. This leads to a greater likelihood of reflux, where urine flows back up the ureters and towards the kidneys. In addition, the growing uterus may compress the ureters, making it harder for urine to flow through. This, coupled with the urine reflux, gives bacteria more time to replicate and may aid in infecting the kidneys. Furthermore, during pregnancy the urine may become less acidic and may contain glucose, two factors that can increase the risk of bacterial growth and increase a woman’s risk for a UTI and kidney infection.